Kamis, 22 Maret 2012

Lima Menit saja

Seorang ibu duduk di samping seorang pria di bangku dekat Taman-Main
di West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah cerah. 'Tuh.., itu
putraku yang di situ," katanya, sambil menunjuk ke arah seorang anak
kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan. Mata
ibu itu berbinar, bangga.
"Wah. bagus sekali bocah itu," kata bapak di sebelahnya. "Lihat anak yang
sedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku,"
sambungnya, memperkenalkan.
Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. "Ayo Jack, gimana
kalau kita sekarang pulang?"
Jack, bocah kecil itu, setengah memelas, berkata, "Kalau lima menit lagi,
boleh ya. Yahhh? Sebentar lagi Ayah, boleh kan? Cuma tambah lima
menit kok, yaaa.„7'
Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan untuk
memuaskan hatinya. Menit menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil
anaknya lagi. "Ayo. ayo, sudah waktunya berangkat?"
Lagi-lagi Jack memohon, "Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit tok,
ya? Boleh ya, Yah?" pintanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Pria itu bersenyum dan berkata. "OK-lah, iyalah..."
"Wah, bapak pasti seorang ayah yang sabar." ibu yang di sampingnya,
dan melihat adegan itu, tersenyum senang dengan sikap lelaki itu.
Pria itu membalas senyum, lalu berkata, "Putraku yang lebih tua, John,
tahun lalu terbunuh selagi bersepeda di dekat sini, oleh sopir yang mabuk.
Tahu tidak, aku tak pernah memberikan cukup waktu untuk bersama John.
Sekarang apa pun ingin kuberikan demi Jack, asal saja saya bisa
bersamanya biar pun hanya untuk lima menit lagi. Saya bernazar tidak
akan mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap Jack. la pikir, ia
dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun, untuk terus bermain.
Padahal, sebenarnya, sayalah yang memperoleh tambahan lima menit
memandangi dia bermain, menikmati kebersamaan bersama dia,
menikmati tawa renyah-bahagianya...."
Hidup   ini   bukanlah   suatu   lomba.   Hidup   ialah   masalah   membuat
prioritas.Prioritas   apa   yang   Anda   miliki   saat   ini?   Berikanlah   pada
seseorang yang kau kasihi, lima menit saja dari waktumu, dan engkau
pastilah tidak akan menyesal selamanya, (swaramerdeka)

Selasa, 06 Maret 2012

Sekali Lagi, Bersyukurlah.

Sekali Lagi, Bersyukurlah.
Coba anda sisihkan waktu sejenak untuk bersyukur atas hal-hal baik
dalam hidup anda. Renungkan tentang apa yang telah anda capai, orang-
orang yang memperhatikan anda. pengalaman yang telah anda dapatkan,
keahlian dan minat yang anda miliki, apa yang anda percayai, dan hal-hal
terindah dalam hidup anda.
Hal-hal yang anda hargai, pelihara, dan jaga, akan terus meningkat dalam
hidup anda. Kelimpahan dimulai dengan rasa syukur Dengan rasa syukur
yang tulus, anda menghargai apa yang telah anda miliki, yang selanjutnya
akan mendorong anda secara mental, spiritual, dan fisik, untuk mencapai
apa saja yang menjadi tujuan anda.
Bagaimana mungkin anda mendapatkan hal-hal yang lebih besar, bila
anda tidak bersyukur atas apa yang telah anda miliki saat ini? Toh
semuanya, hanya bisa dimulai dengan apa yang anda telah miliki tersebut.
Anda tahu. bahwa anda dapat mencapai tujuan, karena anda pernah
merintis hal seperti itu. Pengalaman adalah milik anda yang patut
disyukuri. Siapa bilang tidak ada hal yang bisa disyukuri?
Segalanya dalam jangkauan anda saat anda bersyukur akan apayang
telah anda dapatkan.

Minggu, 04 Maret 2012

Sepuluh Menit Lebih Lama.

Sepuluh Menit Lebih Lama.

Orang-orang hebat sebenarnya hanyalah orang-orang biasa yang memiliki
tekad yang luar biasa. Saat orang-orang disekeliling anda menyerah dan
mundur, kertakkan gigi anda dan cobalah untuk menggali sedikit lebih
dalam. Sukses diraih dan dipertahankan oleh mereka yang terus
mencoba. Majulah, dan akuilah; hari ini anda mungkin belum mencapai
apa yang anda inginkan, harapkan dan impikan. Salah satu kunci untuk
mendapatkan impian anda adalah sebuah tekad untuk tidak pernah
menyerah
Ralph Waldo Emerson berkata, "Seseorang disebut pahlawan bukan
karena ia lebih berani dari orang lain, tetapi karena ia berani bertahan
sepuluh menit lebih lama." Seorang atlit lari jarak jauh belajar untuk
menjadi "terbiasa", la akan terus berlari hingga kecapekan, tetapi ia tidak
akan berhenti. Pelari biasa akan menyerah. Tetapi, pelari jarak jauh tahu
bahwa jika ia dapat menahan kesakitan itu sedikit lebih lama, ia akan
menjadi "terbiasa".
Sebelum seseorang mencoba cukup keras dan cukup lama sampai ia
menjadi "terbiasa", maka ia tidak akan pernah tahu seberapa besar yang
bisa ia capai. Ingatlah, kemampuan itu terdiri dari 95% tekad untuk tetap
bertahan.

Jumat, 02 Maret 2012

Ebook 3D Hapalan Shalat Delisa

 Hanya dalam Dua hari aq bisa menghabiskan membaca isi keseluruhan isi cerita novel nih  padahal aq termasuk orng yang agak malas untuk membaca buku" novel ...
disini kita bisa mengambil hikmah yang begitu mendalam dan sangat menyentuhkan hati para pembaca novel nih...Disini
Sekilas Tentan isi ebook novel nih: Tere Liye, pengarang yang sangat bisa membawa perasaan pembaca untuk memasuki alam suasana tokoh dalam cerita-cerita yang dia buat. Salah satu novel karyanya adalah "Hafalan Shalat Delisa". Sebuah novel yang mengharukan dan penuh dengan makna tentang kehidupan ini, memberikan kesadaran diri untuk pembaca yang membaca novel "Hapalan Shalat Delisa" ini.

Cerita terjadi di Aceh - lhok nga , menceritakan sebuah keluarga yang harmonis, ayah, ibu dan ketiga anak-anaknya. Anak terakhir merekan bernama Delisa umur 6 tahun. Lucu dan menggemaskan. Ya seperti anak-anak lainnya Delisa juga sering mendapat godaan dari kakaknya. Kalo udah gitu ribut deh mulai berantem kakak beradik itu, dan Umilah yang selalu menengahi.

Kebayang gak coba, bagaimana polosnya Delisha saat seusai shalat subuh berjamah bersama kakak dan ibunya Delisha mendekati sang Umi, dan berkata "Delisa cinta Umi karena Allah" ya ampunnn sampai netes ni air mata bacanya. Bener - bener Tere Liye emang seorang novelis yang hebat didalam menarik perasaan pembaca terhadap suasana tokoh ceritanya, seakan-akan saya bisa merasakan apa yang di rasakan oleh mereka (tokoh-tokoh dalam cerita tersebut).

Delisha memiliki kesibukan untuk menghafal bacaan Shalat karena akan ada penilaian tentang bacaan Sholat di sekolahnya, dalam proses menghafal itu, Delisa di bantu oleh salah seorang kakaknya saat Shalat bersama, kakak Delisha di sampingnya membaca bacaan Sholat dengan agak keras hingga Delisha bisa mendengar dan menirukannya, kemana-mana yang di tenteng di tangan Delisha adalah buku hafalan sholat. Hingga tiba waktu penilaian itu tiba. Inilah saat Delisha melakukan sholat untuk pertama kalinya dengan bacaan yang dia hafal tanpa bantuan suara kakaknya. Delisapun membaca takbir. Allahu Akbar. Dengan mantab delisha membaca bacaan Sholat yang telah di hafalnya. Tetapi saat Delisha mengucapkan “…inna sholati (sesungguhnya sholatku) wanusuki (ibadahku) wamah yaya (hidupku) wamamati (dan matiku) lillahi robbil alamin..(Hanya Untuk Allah Tuhan semesta Alam)" bertepatan dengan bencana itu, ya di lautan sana Tsunami mulai berjalan menuju ke daratan Aceh setelah sebelumnya terjadi gempa yang besar, tetapi Delisha tidak beranjak meski terasa gempa olehnya, ini adalah shalat pertama Delisha, Delisha ingin menyelesaikan sholatnya dengan sempurna...... Apa yang terjadi berikutnya ????
Silahkan Download aja Ebook di link bawah nih Hasil karya Tere Liye.
Download<>Hafalan shalat delisa

Kamis, 01 Maret 2012

kisah Bijak sang Pedagang Kaya

Alkisah, ada seorang pedagang kaya yang merasa dirinya tidak bahagia. Dari pagi-pagi buta, dia telah bangun dan mulai bekerja. Siang hari bertemu dengan orang-orang untuk membeli atau menjual barang. Hingga malam hari, dia masih sibuk dengan buku catatan dan mesin hitungnya. Menjelang tidur, dia masih memikirkan rencana kerja untuk keesokan harinya. Begitu hari-hari berlalu.

Suatu pagi sehabis mandi, saat berkaca, tiba-tiba dia kaget saat menyadari rambutnya mulai menipis dan berwarna abu-abu. “Akh. Aku sudah menua. Setiap hari aku bekerja, telah menghasilkan kekayaan begitu besar! Tetapi kenapa aku tidak bahagia? Ke mana saja aku selama ini?”

Setelah menimbang, si pedagang memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kesibukannya dan melihat kehidupan di luar sana. Dia berpakaian layaknya rakyat biasa dan membaur ke tempat keramaian.

“Duh, hidup begitu susah, begitu tidak adil! Kita telah bekerja dari pagi hingga sore, tetapi tetap saja miskin dan kurang,” terdengar sebagian penduduk berkeluh kesah.

Di tempat lain, dia mendengar seorang saudagar kaya; walaupun harta berkecukupan, tetapi tampak sedang sibuk berkata-kata kotor dan memaki dengan garang. Tampaknya dia juga tidak bahagia.